HOTLINE 0812 90090011 - 0838 2020 1111 - 0812 2060 2011 csmqtravel@mqtravel.co.id
Mengapa Harus Bertaubat ?

Mengapa Harus Bertaubat ?

Mengapa Harus Bertaubat? Oleh KH. Abdullah Gymnastiar Dikisahkan tentang bagaimana balasan keburukan bisa langsung diterima pembuatnya dengan cepat: Seorang santri yang saat itu berada di tempat makan, telah lalai dalam menjaga pandangannya. Waktu ia shalat maghrib, beres manjalankan shalatnya ia langsung bergegas menuju ke sebuah toko, untuk sebuah keperluan. Tiba-tiba terdengar suara amat keras. Ternyata ia menabrak pintu kaca toko. Padahal di pintu kaca itu ada dua tulisan yang besar. Hampir pingsan ia rasakan, namun hatinya ada rasa lain bahwa ia itu merupakan cash balasan dari Allah atas perbuatan sebelumnya. Ini baik, bukan baik berbuat dosanya. Orang yang paling cepat berbuat dosa diingatkan itu baik. Yang paling bahaya adalah yang istidradj, yang ditangguhkan. Andai saja orang yang berbuat dosa dibalas oleh Allah cash, tentunya tidak ada yang mau berbuat dosa. Misalnya ia tidak ke mesjid untuk berjamaah, ia dibalas dengan dikejar anjing, atau setiap kali ia berbuat bohong lidahnya tergigit. Makin dekat dengan Allah maka balasan Allah bisa makin cash atas perbuatan-perbuatan baik dan buruknya. Maka ampunan Allah dan rahmat Allah yang kita nantikan. Tidak ada yang berbahaya dalam kehidupan kita selain keburukan kita sendiri. Setiap dosa yang kita lakukan adalah sumber atas kegelisahan, kesulitan, petaka yang dialami. Kita bakal tahu bagaimana kehidupan yang akan kita jalani dari perbuatan kita sendiri. Tapi Allah Maha Baik menyediakan fasilitas taubat untuk dosa yang telah kita lakukan. Allah berfirman: ?Wahai keturunan Adam, sesungguhnya apabila engkau berdoa dan memohon ampun kepada-Ku. Andai dosa-dosamu memenuhi langit dan engkau memohon ampun pada-Ku, maka akan Kuampuni. Wahai anak cucu Adam, andai engkau memiliki dosa kesalahan memenuhi seisi bumi,dan meminta ampun kepada-Ku tanpa pernah menyekutukan-Ku sedikit pun,...
Kiat Mengendalikan Amarah

Kiat Mengendalikan Amarah

Kiat Mengendalikan Amarah KH. Abdullah Gymnastiar Kemarahan diciptakan oleh Allah SWT di dalam diri manusia sebagai pelengkap yang menjadikan manusia menjadi sempurna. Tapi tidak semua sikap marah itu negatif. Ada marah yang didasarkan karena ketaatan pada Allah SWT, yaitu ketika melihat terjadinya kekufuran, kemaksiatan, kejahatan dan pembangkangan terhadap Allah SWT, baik yang dilakukan oleh individu maupun suatu kaum, kelompok atau masyarakat. Ada juga marah karena hasutan dan tipu daya syaitan, yaitu dorongan hawa nafsu dan syahwat terhadap hal-hal duniawi. Marah yang seperti ini biasanya terjadi pada orang-orang yang diselimuti ambisi buta untuk mendapatkan kekuasaan, sanjungan, kekayaan materiil dan hal-hal duniawi lainnya. Rasulullah SAW bersabda, ?Barangsiapa yang mampun menahan marahnya padahal dia mampu menyalurkannya, maka Allah menyeru pada hari kiamat dari atas khalayak makhluk sampai disuruh memilih bidadari mana yang mereka mau.? (HR. Ahmad) Hadits di atas menunjukkan bahwa amarah memang sesuatu yang selalu ada pada diri manusia yang tidak mungkin bisa hilang. Akan tetapi bisa untuk ditahan dan dikendalikan. Betapa pentingnya kemampuan untuk bisa menahan dan mengendalikan amarah sehingga di dalam Al Quran Allah SWT berfirman, Lalu, apa yang harus kita lakukan ketika marah melanda? Marahlah dengan cara yang dicontohkan Rasulullah SAW, yaitu marah yang benar, tegas dan santun. Bersikaplah tawadlu dan jangan banyak keinginan, karena di saat banyak keinginan, maka banyak kemungkinan kita akan merasakan kekecewaan yang berlanjut pada kemarahan jika keinginan- keinginan kita itu tidak terpenuhi. Ucapkan ?A?udzubillahi minasyaithaanirrahjiim? (Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk) karena kemarahan adalah hasutan syaitan. Diamlah sejenak, jangan bereaksi dulu ketika amarah terasa bergejolak. Rasulullah SAW bersabda, ?Apabila di antara kalian marah maka diamlah.? Baginda Rasulullah SAW ucapkan sebanyak...
Seni Menata Hati Dalam Bergaul

Seni Menata Hati Dalam Bergaul

Seni Menata Hati Dalam Bergaul KH. Abdullah Gymnastiar Pergaulan yang asli adalah pergaulan dari hati ke hati yang penuh keikhlasan, yang insya Allah akan terasa sangat indah dan menyenangkan. Pergaulan yang penuh rekayasa dan tipu daya demi kepentingan yang bernilai rendah tidak akan pernah langgeng dan cenderung menjadi masalah. Berikut ini adalah RUMUS 3A agar kita bisa bergaul dengan baik bersama hamba-hamba Allah yang lainnya. Semoga bermanfaat. 1. Aku Bukan Ancaman Bagimu Kita tidak boleh menjadi seorang yang merugikan orang lain, terlebih kalau kita simak Rasulullah Shallallahu ?alaihi wasallam bersabda: “Muslim yang terbaik adalah muslim yang muslim lainnya selamat/merasa aman dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari) Hindari penghinaan apapun yang bersifat merendahkan, ejekan. Penghinaan dalam bentuk apapun terhadap seseorang, baik tentang kepribadian, bentuk tubuh, dan sebagainya jangan pernah dilakukan karena tak ada masalah yang selesai dengan penghinaan, mencela, merendahkan, yang ada adalah perasaan sakit hati serta rasa dendam. Hindari ikut campur urusan pribadi. Hindari pula ikut campur urusan pribadi seseorang yang tidak ada manfaatnya jika kita terlibat. Seperti yang kita maklumi setiap orang punya urusan pribadi yang sangat sensitif, yang bila terusik niscaya akan menimbulkan keberangan. Hindari memotong pembicaraan. Sungguh dongkol bila kita sedang berbicara kemudian tiba-tiba dipotong dan disangkal, berbeda halnya bila uraian tuntas dan kemudian dikoreksi dengan cara yang arif, niscaya kita pun berkecenderungan menghargainya bahkan mungkin menerimanya. Maka latihlah diri kita untuk bersabar dalam mendengar dan mengoreksi dengan cara yang terbaik pada waktu yang tepat. Hindari membandingkan. Jangan pernah dengan sengaja membandingkan jasa, kebaikan, penampilan, harta, kedudukan seseorang sehingga yang mendengarnya merasa dirinya tidak berharga, rendah atau merasa terhina. Jangan membela musuhnya, mencaci kawannya. Membela...