HOTLINE 0812 90090011 - 0838 2020 1111 - 0812 2060 2011 csmqtravel@mqtravel.co.id

7 Wasiat Rasulullah SAW kepada Abu Dzar Al-Ghifari

7 Wasiat Rasulullah SAW kepada Abu Dzar Al-Ghifari

Tujuh Wasiat Rasulullah SAW kepada Abu Dzar Al-Ghifari
Oleh KH. Abdullah Gymnastiar

Abu Dzar adalah salah satu sahabat yang disayangi Rasulullah SAW. Penegak yang Haq dari Suku Ghifar ini memiliki sifat pemberani yang sangat dipuji Rasulullah. Rasulullah menitipkan wasiat ini kepadanya bukan tanpa sebab. Beliau memahami karakter Abu Dzar yang taat dan teguh dalam mematuhi segala perintah Allah dan RasulNya. Berikut tujuh wasiat Nabi yang disampaikan dalam sebuah hadits.

Dari Abu Dzar Al- Ghifari, beliau berkata: “Kekasihku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berwasiat kepadaku dengan tujuh hal: Pertama, supaya aku mencintai orang- orang miskin dan dekat dengan mereka; Kedua, beliau memerintahkan aku agar aku melihat kepada orang yang berada di bawahku dan tidak melihat kepada orang yang berada di atasku; Ketiga, beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahimku meskipun mereka berlaku kasar kepadaku; Keempat, aku dianjurkan agar memperbanyak ucapan ‘Laa hawla wa laa quwwata illa billah’ (Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah); Kelima, aku diperintahkan untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit; Keenam, beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah; dan Ketujuh, beliau melarang aku agar tidak meminta-minta sesuatu apapun kepada manusia.” (HR Imam Ahmad At Thabrani, Ibnu Hibban, dan Al- Baihaqi. Syekh Al- Albani menyatakan hadits ini derajatnya shahih).

Sekarang Mari Kita Bahas Wasiatnya Satu per satu:

1. Kita sering melihat orang miskin dengan pandangan sebelah mata seakan mereka orang yang berderajat rendah, padahal dalam pandangan Allah, kaya-miskin sama sekali bukan ukuran derajat. Derajat di sisi Allah hanya satu, yaitu ketakwaan.
Mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka yaitu dengan membantu dan menolong mereka, bukan sekedar dekat dengan mereka. Apa yang ada pada kita, kita bagi dan kita berikan kepada mereka karena nanti kita akan diberikan kemudahan oleh Allah SWT dalam setiap urusan, dihilangkan kesusahan pada hari Kiamat dan memperoleh ganjaran yang besar.

2. Rasulullah SAW memerintahkan kita agar senantiasa melihat orang yang berada di bawah kita dalam masalah kehidupan dunia dan mata pencaharian. Tujuannya supaya kita tetap mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Tapi kalau berbicara urusan agama, ketaatan, pendekatan diri kepada Allah SWT, kita seharusnya melihat kepada orang yang berada di atas kita, yaitu para nabi, para sahabat, para syuhada dan orang-orang saleh. Supaya kita termotivasi untuk meneladani kesungguhan dan kegigihan mereka dalam meningkatkan kualitas ibadah terhadap Allah SWT bahkan berlomba-lomba untuk melakukannya.

3. Manusia adalah makhluk yang tidak luput dari keterikatan manusia lainnya, jadi silaturahim merupakan ibadah yang amat agung mulia lagi mudah dan memberikan banyak berkah bagi yang melakukannya. Apalagi perkembangan teknologi transportasi dan komunikasi saat ini yang tidak bisa jadi alasan kita untuk menyambung tali silaturahim karena tanpa terhalang jarak dan waktu. Sebab keutamaan silaturahim itu adalah salah satu tanda dan kewajiban iman, mendapatkan rahmat dan kebaikan dari Allah SWT dan salah stau sebab penting masuk surga dan dijauhkan dari api neraka.

4. Lafazh “Laa hawla wa laa quwwata illa billah” (Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah) mengingatkan kita kalau sudah semestinya kita meyakini bahwa apa yang kita lakukan semata-mata terjadi karena kehendak Allah SWT. Tanpa-Nya, kita tidak akan pernah bisa mencapai segala apa yang kita rencanakan dan kita upayakan. Apapun peran dan pekerjaan yang dilakukan oleh seorang manusia, tidak selayaknya ia merasa sombong. Tidak seharusnya ia merasa bahwa apa yang berhasil diraihnya semata-mata adalah murni hasil kerja keras dan jerih payahnya.

5. Seringkali manusia, mungkin termasuk kita sendiri, bertemu dengan situasi di mana sulit sekali untuk menyatakan bahwa ini adalah kebenaran dan ini adalah suatu kesalahan. Latar belakangnya bisa macam-macam: karena rasa sungkan atau rasa segan karena yang sedang kita hadapi adalah orang yang kita hormati atau jabatan atau kedudukannya berada di atas kita. Padahal semestinya, sepahit apapun kebenaran, ia tetap harus diungkap, baik ditujukan kepada diri sendiri maupun orang lain.

6. Rasulullah SAW dan Nabi-Nabi sebelumnya pernah mendapat tantangan dan rintangan saat berdakwah. Seperti cibiran, gunjingan, hinaan, celaan sampai rintangan yang bersifat fisik dari mereka yang tidak berkenan melihat dakwah Islam berlangsung dengan baik dan lancar. Orang-orang yang tidak takut dicela hanya karena mengutarakan suatu kebenaran dari ajaran-Nya merupakan orang yang dicintai oleh-Nya.
Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabb-mu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalanNya dan Dialah yang lebih Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (an-Nahl [16]:25)

7. Meminta-minta adalah sikap yang sama sekali tidak diajarkan Rasulullah SAW serta para Nabi dan Rasul sebelum beliau. Sejak belia, Nabi Muhammad SAW sudah bekerja sebagai penggembala dan beranjak dewasa bekerja sebagai pedagang. Beliau juga sangat menghargai dan menyukai pekerjaan seseorang meskipun hanya menghasilkan upah yang sedikit daripada menengadahkan tangannya kepada orang lain. Bekerja meskipun hanya pedagang asongan, buruh bangunan atau pekerjaan-pekerjaan lainnya yang menurut pandangan masyarakat kita sebagai pekerjaan yang remeh, itu adlah kebaikan yang besar dibanding mengandalkan hidupnya dari meminta-minta kepada orang lain.

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share This