HOTLINE 0812 90090011 - 0838 2020 1111 - 0812 2060 2011 csmqtravel@mqtravel.co.id
JIKA ALLAH BERKEHENDAK

JIKA ALLAH BERKEHENDAK

JIKA ALLAH BERKEHENDAK Sahabat yang baik, setelah satu bulan penuh seluruh ummat Muslim bergembira dengan datangnya bulan suci Ramadahan yang telah berlalu, kini jutaan ummat muslim di Dunia akan kembali berbahagia dengan datangnya bulan haji, banyak ummat muslim yg menunggu undangan Allah di bulan ini untuk menunaikan ibadah haji, mereka bersabar menunggu puluhan tahun serta berkorban harta dan jiwa, agar berkesempatan memenuhi undangan Allah ini. Setiap Perjalanan Haji dan Umroh, pasti ada pengalaman rohani yang menjadikan orang tersebut semakin yakin akan kebesaran Allah, dalam kesempatan ini mari kita baca salah satu pengalaman rohani sahabat kita Lukman pada saat melaksankan Ibadah haji, mudah-mudahan menjadi jalan semakin yakinnya kita atas kebesaran Allah.. JIKA ALLAH BERKEHENDAK TIDAK ADA YANG MUSTAHIL.. Sebelum menuju Makkah ibu dari Lukman berpesan nanti kalau di Makkah temui H. Dulloh orang Kreo teman ibunya diwaktu kecil yg skrg tinggal di Makkah, Lukman bilang orang di Mekkah jutaan bagaimana mencarinya, apalagi kenal muka juga enggak…, lalu orang tuanya bilang ” orangnya tinggi badannya besar…!” Sepertinya mustahil bisa menemui orang itu karena ada jutaan orang di Mekkah, tidak mengenal orangnya, tdk tau alamat, nomor tlp dll, hanya NAMA. Setelah 2 hari di Mekkah pagi hari Lukman sarapan bersama Ust. Ade Badri di Indian Food daerah Ma’la, ada seseorang yg menenteng belanjaan makanan mau pulang tiba-tiba bertanya ke Ust. Ade Badri, ” Itu Cincin beli di Mekkah..?” ” Bukan, ini dari Banten jawab Ust. Ade Badri, lalu terjadilah obrolan dan menanyakan asal masing2, pria itu bilang dari Malaysia tp asli Cipadu, lalu Lukman tersentak kaget karena dia juga dari Cipadu dan bilang saya juga Cipadu pak, dan menyebut nama kakeknya orang...
Wisata Hikmah “Yang Terserak di Korea Selatan”

Wisata Hikmah “Yang Terserak di Korea Selatan”

Yang Terserak di Korea Selatan Perjalanan Wisata Hikmah bersama MQTravel 26 November – 1 Desember 2014 Oleh : Betty Y Sundari Hanya atas ijin dan karunia Alloh diri ini bisa menginjakkan kaki di daratan Korea… Perjalanan kali ini sangat berbeda dari sebelumnya, karena betul-betul memerlukan kemandirian dan tentu saja petunjuk dan pertolonganNya. Biasa merasa aman karena nebeng ke suami kali ini sendiri, mendampingi penulis energik terkenal di negeri ini, mbak Asma Nadia, plus harus mengawal rombongan wisata hikmah MQTravel. La haula wala quwwata ila billaah. Tiba di bandara Incheon Korea Selatan pagi hari disambut dengan suhu udara 6 derajat Celcius yang cukup dingin untuk ukuran kami yang tinggal di daerah tropis. Berusaha setenang mungkin melihat dan mempelajari suasana bandara yang ramai dan sangat modern. Bersih-bersih dan menyelesaikan urusan di kamar kecil adalah prioritas kami sebelum melanjutkan perjalanan. Perjalanan wisata hikmah memang memerlukan kesiapan fisik selain mental dan materi. Saking luasnya bandara incheon, dari tempat ketibaan sampai menuju pengambilan bagasi, kami harus mencapainya dengan menggunakan kereta monorel, luar biasa. Alhamdulillah akhirnya kami bertemu kembali dengan koper bagasi dan segera keluar bandara untuk bertemu lokal tour guide kami. Mereka adalah Criss dan Andy yang membantu dan merangkap fotografer. Tentu saja nama-nama itu adalah bukan nama aslinya, nama panggilan untuk memudahkan. Criss lancar berbahasa Indonesia, dan tentu saja ini adalah berita yang sangat membahagiakan kami. Apa jadinya mengikuti tour tanpa dapat mengerti apa yang dijelaskan oleh tour guidenya. Bahasa Korea tidak mudah untuk dihapal dan dimengerti..hehe. Tujuan pertama adalah sarapan, dan ini kesempatan kami mencicipi kuliner Korea, sup rumput laut, nasi, ayam panggang lengkap dengan topoki dan selada cocok di lidah dan...
Berguru Kepada Nabi Ibrahim AS

Berguru Kepada Nabi Ibrahim AS

Orang-orang yang diundang Allah Ta’ala untuk berhaji dan berumrah diberikan kesempatan untuk melihat Rumah Allah, memegangnya atau bahkan menciumnya. Yang telah melihat dan memegang menjadi tahu persis bahwa ukuran rumah Allah Ta’ala tidak besar dan bukan terbuat dari emas. Padahal Dia kuasa untuk membuat rumah dari emas yang membuat manusia terpesona dan berduyun-duyun datang untuk melihatnya. Rumah itu tidak besar dan bukan terbuat dari emas, namun di hari ini satu-satunya tempat yang tidak pernah sepi dari kunjungan manusia adalah Rumah Allah itu. Secara lahiriah rumah itu sederhana, tetapi secara batiniah rumah itu sangat mewah. Tidak ada yang lebih indah  di sisi Allah melebihi orang bertakwa. Pusaran manusia takwa yang tawaf, shalat atau menatap Ka’bah adalah hiasan termewah bagi Ka’bah. Dan di dasar Ka’bah itu tertanam batu-batu yang disusun oleh tangan orang yang lebih mengutamakan Allah di atas segala sesuatu, Nabi Ibrahim as. Fondasi penyanggah itulah permata terindah bagi Ka’bah. Sebelum Allah Ta’ala memilih Nabi Ibrahim as menjadi Imam bagi segenap manusia dan memerintahkannya untuk menegakkan kembali fondasi Baitullah, Allah menguji beliau dengan beberapa perintah dan larangan. Dari ujian itu terlihat Ibrahim as lebih mengutamakan Allah swt dibandingkan apa pun juga. Paling tidak ada tiga ujian besar yang membuktikan hal ini, yaitu: ujian dibakar hidup-hidup, ujian menempatkan keluarga di tempat yang tidak ada air dan kehidupan sama sekali; dan ujian menyembelih puteranya dengan tangannya sendiri. Ujian pertama, dibakar hidup-hidup. Imam Ibnu Katsir dalam Kitab Qishash al-Anbiyâ menceritakan bahwa Nabi Ibrahim as dilahirkan dan dibesarkan  di Babilonia. Di hari itu hanya ada tiga orang saja yang menyembah Allah swt yaitu: Ibrahim as, istrinya Sarah dan keponakannya Luth. Orang-orang Babilonia pada waktu...
Antara Pengorbanan dan Cinta

Antara Pengorbanan dan Cinta

Kata “adha” dalam kalimat Idul Adha yang digunakan untuk menamai hari besar Islam tanggal 10 Dzulhijjah berasal dari bentuk kata “adha-yudhi-udhiyatan” yang artinya adalah “berkorban”. Maka Idul Adha jika diterjemahkan dalam bahasa kita artinya adalah Hari Raya Korban PENGORBANAN. Maknanya hari tersebut merupakan hari di mana umat Islam yang merayakannya melakukan sebuah pengorbanan. “Pengorbanan apa?” Itulah pertanyaan yang masing-masing dari kita silahkan menjawabnya.. 10 Dzulhijjah dinamai dengan Idul Adha bermula dari kisah yang sering kita dengar di mana Nabi Ibrahim AS mengorbankan putera tercintanya Ismail AS dan menyembelihnya karena Allah SWT. Seperti yang diceritakan di dalam Alquran. Selanjutnya umat manusia diharapkan mengingat momen tersebut dengan saling menanyai diri sendiri. “Jika Nabi Ibrahim AS mengorbankan jiwa puteranya untuk Allah swt, maka apa yang sudah aku korbankan untuk-Nya?” Namun sebelum kita bahas lebih jauh tentang jawaban dari pertanyaan tersebut, ada baiknya jika kita bahas lebih dulu tentang arti berkorban itu sendiri. Saya kesulitan utuk mendefinisikan arti berkorban, namun barangkali kurang lebihnya begini: “Berkorban adalah memilih untuk memberikan sesuatu yang berharga yang dimiliki oleh seseorang kepada yang lain.” Dari pengertian ini maka dapat disimpulkan bahwa orang yang terpaksa harus kehilangan anggota tubuhnya karena kebakaran, misalnya, tidaklah dikatakan berkorban tapi dikatakan mendapat sebuah musibah sebab dia tidak memilih. Dan perbedaan antara berkorban dengan sekedar berbuat baik ada pada “sesuatu yang berharga” yang saya sebutkan di atas. Lihat saja bahwa jika ada orang kaya memberi sedekah nasi bungkus kepada seorang tukang sampah misalnya dia hanya disebut berbuat baik namun tidak dikatakan berkorban sebab apa yang dia berikannya kepada tukang sampah tersebut bukanlah sesuatu yang berharga untuk dirinya setidaknya jika dibandingkan dengan apa yang dimilikinya....